LOGIN



PEMBERITAHUAN

Terima kasih anda telah berkunjung ke situs JAVLEC yang masih dalam tahap pembenahan. Dalam waktu dekat kami akan menyempurnakan situs ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

Salam: Administrator.

Site Counter
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday30
mod_vvisit_counterYesterday68
mod_vvisit_counterThis week312
mod_vvisit_counterLast week500
mod_vvisit_counterThis month1621
mod_vvisit_counterLast month1665
mod_vvisit_counterAll days5801

We have: 2 guests online
Your IP: 38.107.179.211
 , 
Today: Jan 28, 2012

Sebuah perjuangan tanpa lelah mengelola hutan rakyat di Gunung Kidul..

 

Sekilas Jawa

Mengamati penyelenggaraan kehutanan di Jawa, boleh jadi kita akan menangkap gambaran silang-sengkarut. Betapa tidak, berdasarkan catatan yang ada, sampai dengan tahun 2000, pulau seluas 131.412 km2 ini, sedikitnya dihuni oleh  120.425.609 jiwa manusia. Separuh dari mereka diperkirakan tinggal di desa, dan bergantung pada ekonomi lahan, untuk tidak mengatakan pertanian, perkebunan dan atau kehutanan.

Pada abad 19 Raffless pernah menggambarkan betapa menakjubkannya hutan jati di Jawa. Sampai hari ini, dominasi jati di Jawa memang tidak pernah berubah, akan tetapi gambaran elok seperti yang pernah dilukiskan Raffles akan sulit untuk dibuktikan.  Sejak tahun 1950-2000 saja, tutupan hutan di Jawa menyusut sebesar 63%. Kalau dihitung sejak abad 18, ketika luas tutupan hutan di Jawa diperkirakan masih sebesar 9 juta hektar, angka penyusutan itu membengkak menjadi 79%.

Sementara itu di sisi yang lain, kondisi hutan-hutan yang dibangun masyarakat di lahan-lahan milik justru berkembang sangat pesat. Sampai dengan tahun 2010, luas hutan rakyat di Jawa telah mencapai sedikitnya 2,7 juta hektar, kira-kira hampir sebanding dengan luasan hutan negara di Jawa yang sekarang hanya sekitar 3 juta hektar. Angka ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kehutanan masyarakat di Jawa bukanlah wacana belaka. Dengan segala keterbatasan masyarakat desa hutan tidak saja berhasil membangun system ekonomi berbasis hutan, akan tetapi juga system ekologi yang ikut menopang keberlanjutan Pulau Jawa.

Misi Kami

Misi kami adalah meningkatkan kapasitas masyarakat desa hutan, memperluas ruang kelola serta memperkuat hak akses masyarakat pada pengelolaan sumber daya hutan. Untuk itu kami memfasilitasi pengembangan pengetahuan, penguatan organisasi masyarakat sipil, serta pelbagai ikhtiar perbaikan kebijakan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan demokratis. Semua itu kami lakukan dalam rangka ikut berkontribusi bagi terciptanya tata pengurusan hutan yang baik (good forestry governance) di Indonesia.

Apa yang Kami Kerjakan

Dalam rangka menerapkan misi, kami mengembangkan 6 isu strategis, yaitu:  pertama, perbaikan tata pengurusan sumberdaya hutan; kedua, peningkatan daya dukung sistem penyangga kehidupan; ketiga, penguatan hak akses masyarakat dalam pengelolaan sumber daya hutan; keempat, penanggulangan kemiskinan masyarakat desa hutan; kelima, pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa hutan; dan keenam,  peningkatan akses informasi dan komunikasi bagi segenap masyarakat desa hutan.

 

Dari Ruang Berita

TAJUK
Leviathan dan Pemanasan Global

Oleh: Hery Santoso (Pengurus JAVLEC)

Kyoto is, without doubt, only the first step. We will have to do fight this rapid increase temperature on our wonderful blue planet. (Klaus Toepfer, Head of UNEP, 2005).

Sekitar tahun 30 an, sebagaimana yang dicatat Mary E. Pettenger (2007), para ilmuwan dari berbagai disiplin pernah meramalkan, bahwa berdasarkan pengamatan dan temuan-temuan mereka, perlahan tapi pasti bumi akan kembali mengalami jaman es: suhu bumi akan turun secara drastis hingga mencapai titik beku. Tapi nampaknya scenario kembalinya jaman es itu kini sudah dilupakan, untuk tidak mengatakan tidak terbukti, dan sejak satu dekade

PETA SEBARAN PROGRAM

sebaran area

TIM MANAJEMEN
DI SPONSORI OLEH :

JAVLEC JUNIOR

javlecjunior